Keanekaragaman Hewan
AVES
Banyak ciri burung merupakan adaptasi
yang memfasilitasi kemampuan terbang, termasuk modifikasi peringan-tubuh yang
menjadikan terbang lebih efisien.Misalnya, burung tidak memiliki kandung kemih
dan betina dari kebanyakan spesies burung hanya memiliki satu ovarium.
Gonad betina maupun jantan biasanya berukuran kecil, kecuali pada
saat musim kawin, saat ukuran gonad membesar. Menurut Jasin (1996)
kelas aves memiliki ciri-ciri khusus yaitu :
a. Tubuh terbungkus oleh bulu yang
merupakan derivat epidermis.
b. Tubuh dibedakan atas
caput (kepala), cervix (leher) yang biasanya panjang,
truncus (badan) dan cauda (ekor).
c. Mempunyai dua pasang ekstremitas,
anggota depan (anterior) mengalami modifikasi menjadi sayap (ala) yang terlipat
seperti huruf Z pada tubuh ketika tidak terbang, sedangkan sepasang anggota
posterior (depan) disesuaikan untuk hinggap dan berenang, masing-masing kaki
berjari 4 buah, cakar tebungkus oleh kulit yang menanduk dan bersisik.
d. Mulut mempunyai rostrum (paruh)
berzat-tanduk, aves tidak bergigi.
e. Vertebra
servikal berjumlah banyak dan mempunyai persendian heteroselos
(berpelana dua). Vertebra mengalami banyak fusi. Pada kebanyakan burung,
vertebra kaudal terakhir berfusi menjadi pigostil. Pada burung terbang, tulang
sternum terjungkir, dan ada yang berlunas.
f.
Jumlah
jari-jari kaki mungkin 2,3 atau 4. Kaki bagian bawah dan jari-jari kulitnya
berzat tanduk keras.
g.
Telinga
tengah mempunyai sebuah osikel auditori. Ada sebuah meatus auditori eksternal.
Mata berkembang baik, dengan kelopak mata dan membrane niktitans. Pada mata
terdapat struktur vascular yang disebut pekten yang terletak dalam
rongga humor vitreus dan mempunyai kelenjar air mata.
h. Cor (Jantung) terdiri dari 4
ruang yakni dua auricular dan 2 ventricula, hanya arcus anterioeus kanan yang masih ada,
erytrocitnya berinti, berbentuk oval, dan
conveks.
i.
Respirasi dilakukan dengan paru-paru yang kompak yang
menempel pada Costae dan berhubungan dengan kantung udara (saccus pnematicus) yang meluas pada alat-alat dalam,
memiliki kotak suara atau syrinx pada dasar tracea
j.
Saluran
pencernaan meliputi tembolok (crop), lambung kelenjar, dan lambung muscular
(gizzard, empedal), dua buah sekum (caecum), usus besar dan kloaka.
k.
Ginjal tipe
metanefros. Vena porta ginjal tidak terbagi-bagi kedalam kapiler-kapiler
ginjal. Tidak memiliki vesica urinaria. Zat-zat eksresi semisolid.
l.
Pada hewan betina biasanya hanya memiliki
ovarium kiri dan oviduct kiri.
m.
Otak
mempunyai serebrum dan lobus opticus yag berkembang baik. Telah
memiliki 12 pasang saraf kranial.
n.
Suhu tubuh tetap (homoiothermis) dengan bantuan bulu.
o.
Fertilisasi terjadi di dalam tubuh. Telur memiliki
yolk besar terbungkus oleh cangkang yang keras, untuk menetas diperlukan
pengeraman.
Menurut Kastawi (1991), adaptasi
fisik tubuh burung yang menyebabkan burung bisa terbang adalah sebagai berikut.
a. Kebanyakan tulang yang besar berongga untuk mengurangi
berat badan. Berat kerangka hanya ± 10% berat badan.
b. Sebagian ruas tulang belakang menjadi satu membentuk
titik tumpu yang kuat sewaktu sayap dikepakkan.
c. Pada tulang dada yang berlunas dalam, melekat
otot-otot terbang yang kokoh untuk menggerakkan sayap (m.pectoralis).
d. Sistem pernapasan diperluas dengan alat bantu
pernapasan yaitu pundi-pundi udara yang berupa kantung selaput ringan. Burung
harus menggunakan paru-parunya secara efiseien pada saat terbang.
e. Bentuk bulu sayap dan ekor menunjang untuk keperluan
terbang.
Sistem
Integumen
Epidermis pada Aves lebih tipis,
fleksibel dan halus dibandingkan mamalia dengan ukuran yang sebanding dan hal
ini digunakan untuk selektif tekanan untuk meminimalkan berat badan agar
penerbangan lebih efisien. Hubungan antara
kulit Aves dengan jaringan yang terdapat disebelah dalamnya tidak erat.
Epidermis pada Aves khususnya lapisan korneum mengalami keratinasi yang sangat kuat sehingga
berderivat menjadi bulu-bulu yang merupakan ciri khas dari Aves. Menurut
susunan anatomis dapat dibedakan menjadi 3 macam bulu : Plumae (Contour – feathers), Plumulae (Down –
feathers), Filoplumae (Hair – feather). Derivat lain dari epidermis adalah
sisik tanduk pada kaki dan jari-jari, paruh dan cakar. Ada pula derivat epidermis yang berupa kelenjar
yakni kelenjar uropigium yang terdapat pada bagian atas ekor. Kelenjar ini
berukuran besar, bertipe alveolar bercabang. Getah yang dihasilkan kelenjar ini
berupa minyak yang digunakan untuk meminyaki bulu-bulu Aves.
Warna Bulu
Burung memiliki pola warna yang lebih hidup daripada vertebrata yang
lain, tidak hanya digunakan mereka untuk menyembunyikan diri namun juga
digunakan sebagai sarana utama untuk ransangan seksual antar lawan jenis.
Seperti pada kelompok hewan lain, warna tersebut dihasilkan sebagian oleh
pigmen dan sebagian efek dari refleksi dan difraksi. Pigmen yang paling umum
adalah melanin, mulai dari warna hitam hingga coklat ke kuning, dan terletak
dibawah bulu oleh sel khusus yang disebut papilla (Young, 1981)
Pigmen pokok pada bulu burung adalah melanin dan karotenoid. Karotenoid
sering disebut lipokrom, tidak larut dalam air namun larut dalam pelarut lemak
seperti methanol, ether atau karbon sulfide. Pigmen melanin hanya terlarut
dalam asam (Young,1981). Butiran pigmen dapat ditemukan pada shaft dan barbula
dan umumnya warna bulu merupakan produk karotin dan melanin. Adanya butir-butir
melanin bulat di dekat ujung bulu luar akan memberikan efek yang dikenal
sebagai ring Newton dan menyebabkan perubahan warna warni bulu (Sukiya,
2005).
Warna burung ada yang dihasilkan dari refleksi dan difraksi. Contohnya
warna hijau dihasilkan dengan cara menyerap semua spectrum sinar kemudian
dipantulkan kembali. Burung tropis pemakan pisang (plantain-eater) memiliki
pigmen tembaga berupa turacoverdin yang mampu menghasilkan warna hijau,
sedangkan warna merah gelap dihasilkan oleh turacin. Salah satu spesies
ini yaitu Tauraco corythaix (Sukiya,2005)
Struktur
Paruh Burung
Paruh
burung merupakan modifikasi dari rahang atas dan rahang bawah. Paruh memberi banyak manfaat di antaranya untuk mencari
makan, pertahanan, membuat saran. Hal ini
tergantung dari spesies dan kebiasaan hidupnya. Bentuk paruh burung dapat digunakan sebagai penduga terhadap kebiasaan
spesies. Menurut Sukiya (2005) bentuk paruh burung dijelaskan sebagai berikut:
a. Paruh burung spesies pemakan biji, misal kutilang,
biasanya berbentuk kerucut, kokoh dan meruncing tajam, sehingga mempermudah
untuk mengumpulkan dan mengkuliti biji. Paruh burung kutilang, ujung-ujung
rahang saling menyilang sehingga memungkinkan burung untuk mengungkil biji dari
contong.
b. Paruh burung pemakan daging, ujungnya berbentuk kait
untuk menyobek makanannya menjadi potongan potongan kecil untuk ditelan.
c. Paruh burung penangkap ikan seperti burung bangau dan
kuntul paruhnya berbentuk tombak panjang. Anggota Pelecaniformes misalnya
pelican dan sebangsanya memiliki kantung atau kantung gular dibawah dagu.
Kantung ini digunakan untuk menyimpan ikan sementara dan membantu dalam proses
penelanan.
d. Paruh burung penangkap serangga seperti burung
pelatuk, memiliki paruh kuat seperti pahat mampu memotong kayu dan melubangi
pohon untuk menangkap serangga
e. Paruh burung kolibri berbentuk lonjong mampu menahan
madu.
Struktur
Kaki Burung
Kaki
burung menggambarkan kebiasaan spesies. Burung Passerine dan pearching biasanya
memiliki 3 jari kaki di depan dan hallux mengarah ke belakang. Jari kaki
burung pelatuk pada jari ke 4 terbalik ke depan sehingga ada 2 jari ke depan
dan 2 jari kebelakang, ini disebut zigodaktilus. Beberapa burung
layang-layang memiliki kaki palmprodaktilus yaitu keempat jari kaki
ke arah depan, untuk membantu saat hinggap pada permukaan vertical. Kelompok
burung lain, seperti kingfisher, sebagian dari jari luar dan tengah bersatu, kondisi
ini disebut sindaktilus (Sukiya,
2005).
Burung
yang menggunakan kakinya untuk berenang biasanya jari-jarinya bersatu,
setidaknya berupa perluasan jaringan sehingga jari bercuping, untuk memperluas
permukaan kaki. Burung pelikan, 4 jarinya disatukan oleh jaringan selaput
hingga ujung kaki, disebut kaki palmate. Kaki pada burung heron memiliki 3
jari kaki yang disatukan dan hanya sebagian jaringan selaput ini memanjang ke
ujung-ujung jari, disebut semilalate. Anggota familia burung belibis
sisi-sisi jari kakinya memilki lingkaran pinggir disebut kaki pectinated (Sukiya, 2005).
Sistem Musculus
Pada sebagian besar aves, struktur
tubuhnya disesuaikan dengan aktivitas terbang, sehingga otot-otot tertentu akan
lebih berkembang. Otot daging ektremitas berkembang menjadi besar. Gerak sayap
pada waktu terbang dilakukan oleh otot dada imusculus pectoralis. Kontraksi otot yang bergantian menyebabkan
sayap bergerak ke atas ke bawah sehingga sehingga burung dapat terbang. Pada
golongan burung yang lebih sering berjalan otot-otot paha lebih berkembang. Otot daging dari femur (extremitas posterior)
pada prinsipnya untuk lari dan menangkap. Otot daging pada kaki bawah dan
telapak kaki adalah sedikit, sebagai penyesuaian menghindari banyaknya panas
hilang pada bagian ini yang tidak berbulu.
Organ Penyusun Sistem
Pencernaan
Sistem pencernaan pada Aves terbagi menjadi dua
yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan terdiri
atas rongga mulut, faring, esophagus, tembolok, lambung, usus halus, usus besar
dan kloaka. Sedangkan kelenjar pencernaan pada Aves adalah empedu (pada hati),
pancreas dan limpa.
Sistem Respirasi
Bangsa burung mempunyai sistem pernapasan yang unik,
yaitu pernapasan paru-paru yang dilengkapi dengan sistem kantong-kantong udara (Tenzer, 2014). Dengan adanya pundi pundi
udara ini sistem pernapasan burung
pada
saat terbang menjadi sebagai berikut: udara dihisap masuk melalui paru-paru.
Dalam paru-paru oksigen diserap. Sebagaian besar udara bergerak menuju ke pundi
pundi udara yang merupakan tempat penyimpanan udara. Selama terbang, pernapasan
burung terutama menggunakan cadangan udara didalam pundi-pundi udara.
Pengembalian oksigen oleh darah terjadi pada paru-paru saja. Pada waktu waktu
tertentu burung melayang tanpa mengepakkan sayapnya dan pada saat itu burung
mempunyai kesempatan memenuhi kembali pundi-pundi udaranya (Kastawi, 1991).
Organ Indra
Ada tiga kelebihan perkembangan bagian-bagian yang
berhubungan dengan hidung burung daripada reptile. Sebagian besar burung
mempunyai lubang eksternal atau lubang hidung yang menuju kedalam. Anggota
Pelecaniformes tertentu lubang hidung mempunyai penutup. Posisi lubang hidung
biasanya 2 buah terletak di lateral dan pasangannya saling berdekatan, tetapi
pada beberapa anggota Procellariiformes mempunyai lubang hidung berbentuk
tabung di posisi dorsal. Kiwi Selandia Baru memiliki lubang hidung unik, berada
hampir di ujung paruh. Umumnya lubang hidung secara internal terpisah satu sama
lain oleh sekat hidung (septum). Lapisan epitelium pada alat pencium sebagian
besar burung relative terbatas dan hanya pada permukaan atas saja. Hal ini berkaitan
dengan ukuran pusat pencium di otak sehingga menyebabkan indera pencium
relative kurang peka untuk sebagian besar burung. Ujung perasa berkurang pada
lidah sebagian besar burung. Ujung perasa berkurang pada lidah sebagian besar
burung. Organ Jacobson belum sempurna (Sukiya, 2005).
Mata burung sangat berkembang dan proporsinya
cukup besar dibanding ukuran tubuhnya. Akomodasi dilaksanakan dengan aksi
otot-otot siliari yang merubah bentuk lensa. Salah satu bentuk yang tak biasa
dari mata burung adalah struktur berbentuk kipas disebut pecten yang memanjang
ekdalam ruang belakang di bagian saraf optic muncul dari retina. Pecten dapat
memberikan makanan untuk bagian-bagian avascular mata, mungkin menjadi alat
bantu pandang. Pecten diduga juga meruapakan alat orientasi yang memungkinkan
burung dapat menentukan arah gerakan jalannya berkaitan dengan posisi matahari
atau pola-pola bintang. Retina pada burung diurnal lebih didominasi sel konus,
sedangkan retina pada mata burung nocturnal lebih didominasi sel basilus
(Sukiya, 2005).
Burung-burung yang sering keluar masuk gua,
maka dalam kegelapan burung memancarkan serangkaian getaran suara untuk
menentukan arah, seperti halnya pada banyak jenis kelelawar dan mamalia laut.
Spesies burung yang terbang dimalam hari dan burung laying-layang yang menghuni
gua, tergantung pada orientasi bunyi ketika terbang dalam kegelapan.
Kebanyakan burung tidak memiliki telinga
ekternal sehingga hanya merupakan bekas akibat reduksi, tetapi pada burung
hantu struktur ini berkembang baik. Columella di bagian tengah telinga,
berfungsi mengirimkan getaran dari membrane timpani ke bagian telinga dalam,
kohlea ada mekipun tidak berbentuk spiral sempurna (Sukiya, 2005).
Burung hantu gudang mampu mengenali tikus
dalam kegelapan total. Hal ini menunjukkan bahwa pendengarannya sangat kuat.
Suara-suara akan terdengan dengan frekuensi berbeda untuk masing-masing
telinga, tetapi kepekaan terbesar adalah sepanjang garis visi. Ketika burung
menggerakkan kepalanya bermaksud untuk mendengarkan kepalanya bermaksud untuk
mendengar suara terkeras dari mangsa yang bergerak, maka burung akan menghadap
langsung ke arah mangsa postensialnya (Sukiya, 2005).
Klasifikasi
Kelas aves terbagi dalam begitu banyak bangsa (ordo) yang dikenal baik karakteristiknya. Menurut Brotowidjoyo (1994) pembagian Kelas Aves adalah sebagao berikut.
Kelas aves terbagi dalam begitu banyak bangsa (ordo) yang dikenal baik karakteristiknya. Menurut Brotowidjoyo (1994) pembagian Kelas Aves adalah sebagao berikut.
1.
Sub-kelas Archaeornithes (Burung Bengkarung)
Burung-burung
bergigi, telah punah. Hidup dalam periode Jurassik. Metakarpal terpisah. Tidak
ada pigostil. Vertebra kaudal masing-masing dengan bulu-bulu berpasangan.
Contoh: Archaeopterygiformes:
Archaeopteryx sp. Fosilnya terdapat di Jerman
Archaeopteryx sp. Fosilnya terdapat di Jerman
2.
Sub-kelas Neornithes
Ada
yang telah punah, tetapi ada yang termasuk burung modern. Bergigi atau tidak
bergigi. Metakarpal bersatu. Vertebra kaudal tidak ada yang mempunyai bulu
berpasangan. Kebanyakan mempunyai pigostil. Sternum ada yang berlunas, ada pula
yang rata. Mulai ada sejak zaman kretaseus.
a.
Odontogenathae. Contoh: hesperornis dan Ichthyornis, keduanya telah punah. Memiliki gigi. Ditemukan
di Amerika Serikat.
b.
Palaeogenathae. Burung berjalan atau sedikit saja terbang. Tulang sternum tidak
berlunas. Semua dengan tulang vomer yang membentuk jembatan pada tulang
langit-langit. Tidak ada gigi, vertebra kaudal bebas, tulang karakoid dan
skapula kecil.
·
Ordo Struthioniformes. Contoh : burung
unta (Struthio camelus, tinggi 2,5 m,
berat 150 kg, hidup bergerombol, sophagu, seekor jantan mempunyai 4-5 betina.
Berasal dari Afrika dan Arabia.
·
Ordo Rheiformes. Contoh : burung rea (Rhea sp.) Tidak dapat terbang, tidak berlunas. Tinggi 1,2 m.
Berasal dari Amerika Latin.
·
Ordo Casuariiformes. Contoh : burung kasuari (emu) (lihat gambar 2.14).
Tidak dapat terbang, tidak berlunas, sayap kecil, Dromiceius sp., tinggi 1,7 m, kepala dan leher tidak berbulu.
Banyak terdapat di Australia dan Irian.
·
Ordo Dinornithiformes. Burung moa.Tidak berlunas. Telah punah. Tulang
karakoid, scapula, sayap tereduksi atau hilang. Dinornis sp., tinggi hampir 3m. telur 14-18 cm. Terdapat di
Selandia Baru.
· Ordo Apterygiformes. Burung Kiwi. Paruh panjang, lubang hidung di ujung paruh. Sayap berdegenerasi (humerus vestigial, hanya ada satu jari, tidak mempunyai bulu plumae), tidak berlunas, bulu filoplum seperti rambut. Contoh Apteryx sp., omnivore, telurnya berjumlah 1 atau 2 butir (7-12cm). Terdapat di Selandia Baru.· Ordo Aepyornithiformes. Telah punah. Burung gajah. Tulang sternum lebar, pendek. Tinggi 3m lebih. Telur 21-30 cm (telur yang terbesar). Contoh Aepyornis sp. Terdapat di Malagasi.
·
Ordo Tinamiformes. Burung tinamu. Sayap dapat digunakan untuk
terbang.Berlunas.Biasanya berlarinya sedikit terbang.Contoh :Tinamus sp., Rhynchotus sp. Terdapat di
Amerika Latin.

c.
Impennes.
Burung penguin. Sayap (anggota gerak anterior) digunakan untuk berenang, tidak
dapat terbang. Metatarsus bersatu, tetapi tidak sempurna. Empat buah jari
terarah ke muka, jari-jari dengan selaput kulit. Bulu kecil-kecil menutup
seluruh tubuh. Di bawah kulit terdapat lapisan lemak tebal. Berdiri tegak pada
metatarsus. Dapat dengan cepat menyelam. Terdapat 20 jenis dari golongan ini.
Ordo
Sphenisciformes.Contoh :Aptenodytes forsteri, penguin raja
diraja. Tinggi 1m lebih. Jenis yang lain kecil.
d.
Neognathae. Burung-burung modern. Berlunas,
metatarsus bersatu. Vomer kecil dan tidak membentuk jembatan pada
langit-langit.
·
Ordo
Gaviiformes, Burung lun. Kaki pendek
pada ujung tubuh. Jari-jari penuh dengan membran kulit. Patella kecil-kecil.
Terbang cepat melayang-layang, dan menukik. Makan ikan. Contoh : Gavia immer, di belahan bumi utara
·
Ordo
Podicipitiformes. Burung grebe. Ekor
berbulu kapas.Kaki jauh di bagian belakang tubuh.Dapat menyelam dengan cepat
(hilang sekejap mata).Hidup di air tawar atau pantai laut.Omnivore.Contoh :Podicepsauritus, Podilymbus podiceps.
·
Ordo
Procellariiformes. Burung albatross. Lubang hidung tubular. Paruh berlapis beberap papan. Di
dalam hidung terdapat kelenjar. Jari kaki vestigial. Bulu filoplum. Hidup di
lautan. Bertelur di pulau-pulau.Contoh :Diomedea
exulans, albatross berkelana ikut perahu di laut selatan, sayap 3 m. Oceanodroma sp., albatross kecil.
· Ordo Ciconiiformes. Hidup di sawah: burung blekok, flamingo. Leher panjang, kaki panjang.Bulu dekoratif, kadang-kadang kepala gundul. Paruh bengkok di tengah-tengah (flamingo), tidak ada membrane kulit sela jari (kecuali flamingo). Makanannya ikan dan hewan air lainnya. Hidup berkoloni. Contoh: Ardea Herodias (blekok biru), Butorides virescens (blekok hijau), Phoenicopterus ruber (flamingo), Casmerodius albus (blekok putih).· Ordo Pelecaniformes. Burung pelikan, burung gannet. Keempat jari dalam sat membrane kulit. Lubang hidung vestigial. Contoh :Pelecanus erythrorhynchus, paruh besar untuk menyerok ikan dari laut. Warna putih, P. occidentalis, warna coklt. Morus bassana banyak terdapat di daerah tropis (burung camar).
·
Ordo
Anseriformes. Angsa, bebek, mentok.
Paruh lebar tertutup dengan lapisan yang banyak mengandung organ sensori. Keki
pendek, jari dengn membrane kulit, ekor pendek. Hewan muda berbulu kapas.
Tersebr di seluruh dunia, lebih dari 200 jenis. Contoh :Anas platyrhynchos, Aythya vasilineria (bebek liar), Branta sp., Anser sp. (mentok), dan Cygnus sp. (angsa).
·
Ordo
Falconiformes. Burung ruak-ruak
bangkal, elang, rajawali, garuda. Paruh kuat sekali, dengan kait pada ujungnya.
Kaki digunakam untuk menerkam korbannya, dengan kuku-kuku tajam. Predator,
aktif di waktu siang. Sayap kuat, terbang cepat. Contoh :Cathartes aura(kepala merah), Coragyps
atratus (bulu hitam), Gymnogyps sp. (burung
kondor), Buteo borealis (ekor merah),
Aquila chrysaetos (bulu emas), haliacetus leucocephalus (pemakan ikan).
· Ordo Galliformes. Ayam, kalkun, merak, burung kuau. Paruh pendek, kaki untuk berlari dan mengais. Makan padi-padian. Contoh :Phasianus colchicus (leher belang), Pavo cristatus (merak), Gallus sp. (ayam hutan), Gallus domestica (ayam buras), Meleagris gallopavo (kalkun).
·
Ordo
Gruiformes. Burung bangau. Hidup di
rawa-rawa. Ekor dan kaki panjang, bulu berwarna abu-abu. Grus sp., Rallus sp., Fulica sp.
·
Ordo
Diatrymiformes. Besar, tidak dapat
terbang, sayap atropi, paruh sangat besar. Empat jari pada tiap kaki. Terdapat
di Amerika Serikat. Contoh :Diatryma sp.
(telah punah).
·
Ordo
Charadriiformes. Burung camar,
plover. Jari kaki dengan membrane kulit. Bulu filoplum. Padat, kaki panjang,
sayap kuat. Telur bertotol-totol. Banyak terdapat di pantai atau masuk ke darat
jauh dari pantai. Oxyechus vociferous (panjang
26 cm), Erolia sp., mencari makan di
pasir. Sterna sp. (burung camar), Larus sp., banyak di tempat kotoran, di
pelabuhan atau tepi pantai. Paulus impenis dan Uria aalge telur-telurnya untuk
makanan kita.
·
Ordo
Columbiformes, merpati dan
perkutut. Paruh pendek ramping dengan
sera pada pangkal paruhnya (sera kulit lunak). Tarsus lebih pendek dari jari.
Tembolok besar dan berlapis-lapis sel yang mudah mengelupas dan membentuk “susu
merpati”. Susu merpati itu sewaktu-waktu dimuntahkan untuk memberi makan anak-anaknya.
Tersebar di seluruh dunia. Contoh : Columba livia, C. fasciata (merpati),
Ectopicthes migratorius (merpati pengembara), Zenaidura macroura (perkutut)
·
Ordo
psittaciformes. Kakatua, betet. Paruh
pendek kuat, pinggiran tajam dan berkait pada ujungnya. Mandibular dapat
bergerak bebas dari tulang kepala. Bulu filoplum dan berwarna hijau, biru,
kuning atau merah. Suara keras. Hidup di hutan. Makanannya buah-buahan. Contoh
: Rhynchopsitta sp. Dan Conuropsis sp.
·
Ordo
Cuculiformes. Burung cukoko, burung pelari. Cakar digunakan untuk menangkap
korban. Yang betina suka bertelur dalam sarang burung lain dan berebut makanan
burung lain. Contoh : Geococcyx sp. Dan Coccyzus sp.
·
Ordo
Strigiformes. Burung hantu. Kepala besar, mata besar. Lubang telinga besar
kadang-kadang memounyai lembaran penutup. Paruh pendek aktif di waktu malam.
Makanannya burung kecil dn Arthropoda. Contoh : Tito alba, Bubo sp. Otus asio,
Nyctea sp. Yang terakhir hidup di daerah dingin. Speotyto cunicularia.
Menyerobot galian yang dibuat oleh tupai tanah.
·
Ordo
Caprimulgiformes. Burung elang malam. Paruh kecil, tapi mulut lebar.
Kaki dan tarsus lembek dan kecil. Aktif di waktu malam. Makan insekta malam.
Contoh : Antrostomus vociverus, dan chordeiles minor.
·
Ordo
Micropodiformes. Burung kolibri, burung dengung (juga disebut ordo
apodiformes). Tubuh kecil, kaki dan jari kecil, paruh kecil, lembek dan panjang
dengan lidah bentuk tabun (kolibri). Sarang dibuat dari secret ludah (dibuat
sop). Contoh : Chaetura pelagica (burung wallet), sarangnya terdapat di dalam
buah. Burung kolibri (Archilochus colibris dan Selasphorufus).
·
Ordo
Coliiformes. Seperti burung gereja, kecil. Ekor
panjang. Colius sp. (di afrika).
·
Ordo
trogoniformes. Paruh pendek dan kuat, dengan bulu pada pangkalnya. Kaki
kecil lemah. Bulu berwarna hijau, lemas. Termasuk burung yang berbulu indah.
Contoh : Trogon elegans, Pharomacrus mociino.
·
Ordo
Coraciiformes. Burung raja pencari ikan. Jari ketiga dan keempat bersatu
pada dasarnya.paruh kuat. Pemakan kupu-kupu kecil, lebah, kmbang dsb. Banyak
terdapat di daerah tropis. Contoh : Maceryle alceon, juga makan katak dan ikan
sambil menyelam dalam air.
·
Ordo
piciiformes. Burung pelatuk, burung tukan. Bulu ekor kaku. Paruh kuat, lidah
kasar. Hidup di hutan, membuat lubang pada batang kayu untuk mencari insekta
dan larva. Contoh : dendrocopos vellosus (tubuh berbulu), dryobates pubescans
(berbulu kapas), sphyrapicus sp. Memakan cambium batang pohon dan melanerpes
formeciforu menimbun makanan dalam lubang kayu.
·
Ordo
Passeriformes. Burung gagak, robin, burung gereja, burung raja. Ada 5100
spesies dan meliputi burung-burung yang banyak yang kita kenal sehari-sehari.
Banyak yang pandai bernyanyi. Karena mempunyai pita suara. Sebagian besar hidup
di darat dalam semua macam habitat, ada yang membuat sarang di dalam pohon.
Telur berwarna-warni. Ketika menetas anak burung ini buta. Yang kecil, makan
insekta dan biji-bijian. Contoh : corvus sp. (gagak), melospiza sp. (penyanyi
ulung). Tudus sp (robin).
Habitat
Burung terdapat
hampir diseluruh penjuru dunia, kecuali di padang es yang gersang di kutub dan
gurun pasir yang paling kering. Bahkan lautan yang luar biasa luasnya dapat
merupakan sumber makanan di luar musim mengeram. Secara umum habitat burung
dapat dibagia atas: di darat, di air tawar, dan di laut (air asin). Ada burung
yang dapat hidup di hutan yang lebat, hutan kurang lebat, semak-semak, dan
rerumputan. Sebaliknya ada juga burung yang hidup di lapangan terbuka tanpa
atau dengan sedikit tumbuhan, atau di antara batu-batu dan bukit batu atau batu
karang. Kebanyakan burung-burung darat ini menemukan makannya dalam tetumbuhan
atau di tanah (Kastawi, 1991).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar